Persebaran Flora dan Fauna di Dunia
Biogeografi adalah ilmu yang mempelajarai tentang persebaran flora dan fauna. Dalam pembahasanya biogeografi menggunakan 2 pendekatan, yaitu biogeografi sejarah dan biogeografi ekologi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran flora dan
fauna
a. Penyebab persebaran
- Tekanan populasi
-Perubahan habitat
b. Sarana persebaran
- udara
-Air
- Lahan
- Pengangkutan manusia
a. Penyebab persebaran
- Tekanan populasi
-Perubahan habitat
b. Sarana persebaran
- udara
-Air
- Lahan
- Pengangkutan manusia
Faktor-faktor yang
Menghambat Persebaran
a.
Hambatan
Iklim
b.
Hambatan
Edafik (tanah)
c.
Hambatan
Geografis
d.
Hambatan
Biologis
Pengaruh Kondisi Geologi
terhadap Persebaran Flora dan Fauna di Dunia
menurut Teori ”Apungan” dan
”Pergeseran Benua” yang disampaikan oleh Alfred Lothar Wegener (1880-1930).
Kurang lebih 265 juta tahun yang
lalu, bumi hanya terdiri atas satu benua besar yang disebut ”Pangaea”dan
satu samudra besar ”panthalassa”, karena adanya tenaga endogen benua
besar itu terpecah membentuk Benua Eurasia di bagian utara (Amerika
Utara,Eropa, Asia bagian utara, dan Asia bagian tengah) dan Gondwana di bagian
selatan (Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Antartika). Adanya
pergeseran benua yang terus berlangsung akibat tenaga endogen, kurang lebih 20
– 50 juta tahun yang lalu Afrika dan Asia selatan bergabung dengan Eurasia,
sedang Australia memisahkan diri dengan Antartika. Proses pemisahan benua-benua
tersebut menyebabkan terpisah pula flora dan fauna saat itu.
Pengaruh Faktor Iklim
terhadap Persebaran Flora dan Fauna di Dunia
Suhu dan kelembapan udara
berpengaruh terhadap proses perkembangan fisik flora dan fauna, sedangkan sinar
matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk fotosintesis dan metabolism tubuh
bagi beberapa jenis hewan. Angin sangat berperan dalam proses penyerbukan atau
bahkan menerbangkan beberapa biji-bijian sehingga berpengaruh langsung terhadap
persebaran flora. Kondisi iklim yang berbeda menyebabkan flora dan fauna
berbeda pula. Di daerah tropis sangat kaya akan keanekaragaman flora dan fauna,
karena pada daerah ini cukup mendapatkan sinar matahari dan hujan, keadaan ini
berbeda dengan di daerah gurun. Daerah gurun beriklim kering dan panas, curah
hujan sangat sedikit menyebabkan daerah ini sangat minim jenis flora dan
faunanya. Flora dan fauna yang hidup di daerah gurun mempunyai daya adaptasi
yang khusus agar mampu hidup di daerah tersebut.
Pengaruh Ketinggian
Tempat terhadap Persebaran Flora dan Fauna
Ahli klimatologi dari Jerman yang
bernama Junghunn membagi habitat beberapa tanaman di Indonesia berdasarkan
suhu, sehingga didapatkan empat penggolongan iklim sebagai berikut.
a. Wilayah berudara panas (0 – 600 m
dpal).
Suhu wilayah ini antara 23,3 ºC – 22
ºC, tanaman yang cocok ditanam di wilayah ini adalah tebu, kelapa, karet, padi,
lada, dan buah-buahan.
b. Wilayah berudara sedang (600 –
1.500 m dpal)
Suhu wilayah ini antara 22 ºC – 17,1
ºC, tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini adalah kapas, kopi, coklat,
kina, teh, dan macam-macam sayuran, seperti kentang, tomat, dan kol.
c. Wilayah berudara sejuk (1.500 –
2.500 m dpal)
Suhu wilayah ini antara 17,1 ºC –
11,1 ºC, tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini antara lain sayuran, kopi,
teh, dan aneka jenis hutan tanaman industri.
d. Wilayah berudara dingin (lebih 2.500 m dpal)
Wilayah ini dijumpai tanaman yang
berjenis pendek, contoh: edelweis.
Pengaruh Faktor Biotik terhadap Persebaran
Flora dan Fauna
Aktivitas burung dalam rangka
memenuhi kebutuhan makanannya ternyata bisa menjadi agen penyebar tanaman
tertentu. Kemampuan burung dalam menyebarkan tanaman ini seringkali sampai
dengan jarak berkilo-kilometer. Selain burung, ada pula beberapa hewan tertentu
yang ternyata secara tidak sadar menjadi agen penyebar tanaman tertentu.
A. Persebaran Bioma di Permukaan Bumi
Berikut
ini merupakan persebaran flora di permukaan bumi yang diklasifikasikan dalam
beberapa bioma.
a. Bioma Tundra
Bioma
tundra mempunyai karakteristik iklim regional yang sangat ekstrim dengan suhu
rata-rata rendah, bersalju, dan mempunyai musim panas yang pendek. Jenis
vegetasi yang tumbuh adalah lumut yang membentuk suatu hamparan yang luas atau
sering disebut sebagai ”hamparan bantalan”. Jenis-jenis lumut tersebut yaitu dark red, rumput kipas, dan
lain-lain. Tersebar
di kutub utara dan di Pegunungan Alpine.
| Tundra |
Bioma
savana beriklim asosiasi antara iklim tropis basah dan iklim kering yang
terbentang dari kawasan tropika sampai subtropik. Daerah tropika sampai
subtropika dengan curah hujan yang tidak teratur menyebabkan tanah di daerah
tersebut mempunyai tingkat kesuburan sangat rendah. Vegetasi yang tumbuh adalah
rumput-rumputan, seperti gramineae jenis rumput yang hidup sepanjang
tahun dengan ketinggian rumput mencapai 2,5 m lebih. Selain gramineae tedapat juga palm savanna, pine savanna dan acacia
savanna. Bioma ini tersebar di Afrika Timur, Amerika Tengah, Australia, dan
Asia Timur.
c. Bioma Gurun
Bioma
gurun dicirikan dengan kondisi iklim musim kering yang sangat ekstrim dengan
suhu udara yang tinggi. Bioma gurun ini tersebar di Amerika Utara yang disebut praire,
di Asia disebut steppa, Amerika Selatan disebut pampas, dan
Afrika Selatan disebut veld. Sesuai dengan kondisi alamnya, maka tidak
semua jenis vegetasi bisa tumbuh di gurun. Jenis vegetasi yang bisa bertahan
hidup di daerah gurun antara lain adalah kaktus, liliaceae, aloe, kaktus
saguora, dan cholla. Hewan yang biasa terdapat pada bioma ini antara lain unta, ular, semut, dan kadal
d. Bioma Taiga atau Hutan Boreal
Bioma taiga terletak di kawasan
beriklim subartik dengan iklim yang sangat dingin dan musim panas yang sangat
pendek. Kisaran temperatur antara suhu rendah dan suhu tinggi sangat besar.
Tersebar di Skandinavia, Rusia Timur, Amerika Utara, dan beberapa di kawasan
Asia Utara.
Jenis vegetasi yang mendominasi
adalah jenis vegetasi konifer (tumbuhan berdaun jarum), di antaranya picea,
abies, pinus, dan larix. Salah satu hewan yang tinggal di hutan ini adalah beruang cokelat.
| Taiga |
e. Bioma Hutan Hujan Tropis
Hutan
hujan merupakan bioma paling kompleks, jumlah dan jenis vegetasinya sangat
banyak dan bervariasi, keadaan itu disebabkan oleh iklim mikro yang sangat
sesuai bagi kehidupan berbagai jenis tumbuhan. Iklim hutan hujan tropis
dicirikan dengan musim hujan yang panjang, suhu udara, dan kelembapan udara
tinggi. Terdapat beberapa lapisan vegetasi dalam hutan hujan, yaitu sebagai
berikut.
1) Lapisan vegetasi yang tingginya
mencapai 35-42 m, dan daunnya
merupakan ”kanopi” (payung) bagi vegetasi di bawahnya.
2) Lapisan tertutup kanopi dengan
ketinggian vegetasi berkisar 20-35 m, pada lapisan ini sinar matahari masih
bias menembus.
3) Lapisan tertutup kanopi berkisar
4–20 m, merupakan daerah kelembapan udara relatif konstan.
4) Lapisan vegetasi dengan ketinggian berkisar 1-4 m.
5) Lapisan vegetasi dengan ketinggian antara 0-1 m, berupa anakan pohon serta semak belukar.Jenis vegetasi yang tumbuh dalam hutan hujan tropis di antaranya Dipterocarpaceae, Pometia spp, Arecaceae (palem), Mangifera spp, dan Rafflesia spp. Terdapat juga jenis vegetasi yang khas yaitu epifit (angrek-anggrekan) dan liana (tumbuhan merambat contohnya adalah rotan). Bioma hutan hujan tropis tersebar di daerah antara 10º LU dan 10º LS, termasuk di dalamnya Hutan Amazon (Amerika Tengah), Afrika Barat, Madagaskar Timur, Asia Selatan (Indonesia dan Malaysia), dan Australia.
4) Lapisan vegetasi dengan ketinggian berkisar 1-4 m.
5) Lapisan vegetasi dengan ketinggian antara 0-1 m, berupa anakan pohon serta semak belukar.Jenis vegetasi yang tumbuh dalam hutan hujan tropis di antaranya Dipterocarpaceae, Pometia spp, Arecaceae (palem), Mangifera spp, dan Rafflesia spp. Terdapat juga jenis vegetasi yang khas yaitu epifit (angrek-anggrekan) dan liana (tumbuhan merambat contohnya adalah rotan). Bioma hutan hujan tropis tersebar di daerah antara 10º LU dan 10º LS, termasuk di dalamnya Hutan Amazon (Amerika Tengah), Afrika Barat, Madagaskar Timur, Asia Selatan (Indonesia dan Malaysia), dan Australia.
f. Bioma Hutan Iklim Sedang
Disebut juga Hutan gugur. Ciri
khas dari bioma hutan iklim sedang adalah warna daun yang berwarna oranye
keemasan. Hal ini disebabkan karena pendeknya hari sehingga merangsang tanaman
menarik klorofil dari daun sehingga diisi pigment lain. Jenis vegetasi yang
tumbuh adalah Quercus (oak), Acer (maple), Castanea dan
lain-lain. Tersebar di Eropa Barat, Eropa Tengah, Asia Timur (Korea
dan Jepang) dan Timur Laut Amerika. Vegetasi jenis ini hanya dapat ditemui di
Benua Eropa serta Asia Timur, karena vegetasi ini hidup pada kawasan subtropis
dengan iklim semi selama enam bulan serta mengalami musim gugur saat musim
kering sampai musim dingin.
B. Persebaran
Fauna di Permukaan Bumi
Alfred
Russel Wallace pada tahun 1876 membagi persebaran fauna di dunia dalam beberapa
provinsi yaitu sebagai berikut.
a.
Provinsi
Zoogeografi Paleartic
Provinsi ini meliputi di Siberia, Afrika
Utara, dan beberapa kawasan di Asia Timur. Fauna yang hidup di antaranya
harimau siberia, beruang kutub, beaver, dan rusa.
b.
Provinsi
Zoogeografi Neartic
Provinsi ini meliputi sebagian besar
Amerika Utara dan Greenland (kutub utara sampai dengan subtropis). Fauna yang hidup
di antaranya antelope, rusa, dan beruang. c. Provinsi Zoogeografi Neotropical Provinsi ini meliputi Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Mexico. Fauna yang hidup di antaranya primata, kelelawar, rodent, trenggiling, dan kukang.
d.
Provinsi
Zoogeografi Ethiopian
Provinsi
ini meliputi Afrika dan Madagaskar. Fauna yang hidup di kawasan ini di
antaranya gajah afrika, gorila gunung, jerapah, dan lain-lain.
e. Provinsi Zoogeografi Oriental
Provinsi
ini meliputi India, Cina, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Fauna yang hidup
dalam kawasan ini di antaranya harimau sumatra, tapir malaysia, gajah india,
kerbau air, badak, dan lain-lain.
f. Provinsi
Zoogeografi Australia
Provinsi ini meliputi Australia,
Tasmania, dan sebagian Indonesia bagian timur. Fauna yang hidup di antaranya
kanguru, plathypus, kuskus, wombat, dan lain-lain.
g. Provinsi
Zoogeografi Oceanic
Tersebar
di seluruh samudra di dunia, berupa beberapa jenis ikan dan fauna laut jenis
mamalia, seperti anjing laut, lumbalumba, dan ikan paus.
h. Provinsi
Antartik
Provinsi
ini mencakup kawasan di kutub Selatan, jenis fauna yang hidup di daerah ini
memiliki bulu lebat untuk menahan dingin serta memiliki lapisan lemak yang
tebal pula. Fauna daerah ini di antaranya rusa kutub, burung penguin, anjing
laut, kelinci kutub, dan beruang kutub.
C. Biota laut di Indonesia
Indonesia
diperkirakan mempunyai lebih dari 350 jenis karang yang tersebar di beberapa
Taman Nasional. Karang yang terdapat di Indonesia umumnya berbentuk cabang,
keras (massive), meja, lembaran, daun, jamur, pipa, merayap mengikuti
substrat dan lain-lain.
Jenis-jenis
ikan yang ada di Indonesia antara lain abudefduf leucogaster, amphiprion
tricinctus, chaetodon speculum, chelmon rostratus, cheilinus undulatus,
kerapu (Epinephelus sp.), cakalang (Katsuwonus spp.),
baronang (Siganus sp.), kuda gusum (Hippocampus kuda), oci putih
(Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira),
bendera (Platax pinnatus), dan sadar (Siganus lineatus).
D.
Kerusakan Flora dan
Fauna Indonesia
Permasalahan
menonjol yang menyebabkan terjadinya kepunahan berbagai jenis flora dan fauna
di Indonesia antara lain sebagai berikut.
a.
Kebakaran Hutan
Dampak
negative kebakaran hutan secara umum antara lain sebagai berikut.
1)
Penurunan keanekaragaman hayati dan musnahnya satwa liar.
2) Menghilangnya fungsi hutan
sebagai sumber daya ekonomi.3) Terganggunya siklus hidrologi.
4) Terjadi perubahan siklus unsur hara.
b.
Illegal logging
Illegal
logging juga
mengancam kepunahan berbagai tumbuhan kayu yang bernilai ekonomis terutama
jenis-jenis dipterocarpaceae. Keadaan ini telah terjadi di hutan di
Kalimantan, di mana jenis meranti merah sebagai tanaman endemi Kalimantan telah
jarang didapati keberadaannya.
c.
Kerusakan Terumbu Karang
Kerusakan
terumbu karang di Indonesia disebabkan oleh beberapa tindakan manusia yang
tidak bertanggungjawab, di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Peledakan di kawasan terumbu karang
yang dilakukan oleh nelayan untuk menangkap ikan.
2) Pencemaran limbah industri dari
daratan misalnya yang telah terjadi di Kepulauan Seribu. Terumbu karang di
Kepulauan Seribu telah tercemar limbah dari Jakarta, akibatnya terumbu karang
di daerah itu telah berkurang bahkan mengalami kerusakan.
3) padat (lumpur) yang masuk dalam perairan laut. Keadaan tersebut akan
lebih parah apabila di pantai tidak didapati mangrove, karena mangrove selain
sebagai penahan abrasi juga sebagai filter sebelum air sungai masuk ke laut. 4) Pengambilan karang untuk hiasan dan bahan tambang juga mempercepat terjadinya kerusakan terumbu karang.
d. Perdagangan Satwa
Liar
Seperti
halnya ilegal logging, perdagangan satwa liar merupakan ancaman bagi punahnya
berbagai satwa di Indonesia. Adanya suatu pemilihan terhadap jenis satwa yang
bernilai ekonomis merupakan salah satu penyebab berkurangnya bahkan punahnya
suatu jenis satwa.
E.
Konservasi Keanekaragaman Flora dan Fauna di Indonesia
Pemerintah telah menetapkan
kawasan-kawasan konservasi dalam UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan PP No.34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan. Pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan secara garis
besar dibagi sebagai berikut.
a. Kawasan Suaka Alam
Kawasan
dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai
fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan.
b. Kawasan Pelestarian Alam
Kawasan
Pelestarian alam merupakan kawasan dengan cirri khas tertentu baik darat maupun
perairan dan mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara
lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
c. Taman Buru
Taman
buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu.
Pembagian Kawasan Konservasi serta Sub Konservasi, adalah sesuai UU No.41 Tahun
1999 dan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2002.
Kawasan Cagar Alam ialah kawasan suaka
alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, serta
ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya
berlangsung secara alami.
Suaka Margasatwa ialah kawasan suaka
alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman atau keunikan jenis satwa
di mana untuk kelangsungan hidupnya dapat
dilakukan
pembinaan terhadap habitatnya.
Taman Nasional ialah kawasan
pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan zonasi yang
dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Taman Hutan Raya ialah kawasan
pelestarian untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/hewan yang alami atau buatan,
jenis asli atau bukan jenis asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan
penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,
pariwisata,
dan rekreasi.
Taman Wisata Alam ialah kawasan
pelstarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan
pariwisata dan rekreasi alam.
nice materi !!:D
BalasHapussip...lanjutkan!!!
BalasHapusterimakasih infonya
BalasHapusterimaksih atas informasinya, sangat membantu :)
BalasHapustrim's sangat membantu (y)
BalasHapusmantaap infonya
BalasHapusya, sama-sama...
BalasHapuskeren infonya ..
BalasHapusthnks infonya
BalasHapus