Sabtu, 20 Desember 2014



















NOMENKLATUR

Latar belakang dan sejarah
     Untuk mengidentifikasi tiap makhluk hidup maka diperlukan penamaan khusus dari tingkat kingdom hingga tingkat spesies. Nama-nama yang menunjukkan suatu jenis hewan maupun tumbuhan digolongkan menjadi nama ilmiah dan nama sehari-hari. Nama sehari-hari adalah nama-nama yang digunakan secara luas dalam suatu masyarakat. Misalnya 'gedang' dalam Bahasa Jawa berarti pisang dan 'gedang' dalam Bahasa Balinya berarti pepaya. Nama sehari-hari ini memiliki  kekurangan yaitu perbedaan nama jenis hewan atau tumbuhan pada tiap bahasa yang berbeda. Sedangkan nama ilmiah merupakan nama yang tetap dengan beberapa sinonim yang mengacu pada suatu kelompok (jenis) hewn atau tumbuhan.
     Pada tahun 1753, seorang bernama Carolus Linnaeus menerbitkan sebuah buku  dengan judul Spesies Plantarum. Semua nama dalam tumbuhan tersebut terdiri dari dua kata berbahasa Latin yang disebut nomenklatur biner yaitu setiap nama selalu terdiri dari 2 bagian : nama marga dan petunjuk spesies. Keuntungan dari nama ilmiah ini diantaranya adalah dapat dipahami  oleh ilmuawa dari berbagai bahasa di dunia , menunjuk satu kelompok tumbuhan saja, dan jika beberapa nama suatu spesies didiartikan maka akan menunjukkan ciri-ciri/karakteristik, nama daerah, maupun asal spesies tersebut

Memilih Nama 
1. Berdasarkan  Nama tempat/pulau:
-Shorea javanica
-Diospyros celebica
-Aleurites moluccana
(molluccana = Maluku --> kemiri yang berasal dari maluku)
-Agathis borneensis
2. Berdasarkan Nama lokal :
-Stelechocarpus burahol
-Carica papaya
3. Berdasarkan Sifat morfologi :
-Diospyros cauliflora
-Mallotus oblongifolia
-Casuarina equisetifolia
(Casuarina = cemara, equisetum = ekor kuda, folia = daun -->cemara yang daunnya seperti ekor kuda atau cemara berdaun sepert Equisetum)
4. Berdasarkan nama orang yang memberi nama tumbuhan tersebut :
-Samanea saman (trembesi)
gambar Casuarina equisetifolia
-Acacia auriculiformis
5. Berdasarkan Tempat tumbuh (habitat):
-Ficus montana (Ficus = fig = beringin/ara, montana = gunung ---> beringin yang hidup di gunung)
-Heritiera littoralis
-Madhuca vulcanica
Aturan menulis nama
1. Nama marga (genus) merupakan kata benda berbentuk jamak atau suatu kata yang diperlakukan demikian. Kata ini dapat dari sumber manapun dan selalu ditulis dengan huruf awal kapital.
2. Nama spesies/jenis yaitu kombinasi dari nama marga diikuti oleh petunjuk jenis, dan jika petunjuk jenis terdiri atas dua kata atau lebih agar diberi tanda penghubung (-).
3. Bila nama jenis diikuti oleh nama subjenis terjadilah nama varietas, yaitu nama trinomial. Contoh : Cocos nucifera var. viridis (Kelapa Hijau)
4. Nama biner diikuti oleh nama orang, biasanya oarang yang memberi nama atas penemuannya. Nama orang umumnya ditulis dalam bentuk singkatan.. Misal Agremon mexicana L.
5. Dalam tulisan cetak nama biner dan nama varietas dicetak tebal atau miring dan nama orang maupun tulisan 'var.' tidak ikut dicetak miring.
6. Tatanama divisio-familia, nama : 
-Divisio berakhiran -phyta, contoh : Magnoliophyta
-Classis berakhiran -ea/ -eae. contoh Gnetinae
-Ordo berakhiran -ales, contoh : Magnoliales
-Familia berakhiran -aceae, contoh : Magnoliaceae

Tipe Tatanama Tumbuhan
Untuk menghindari kekacauan dalam pemakaian nama ilmiah maka Kode Internasional TatanamaTumbuhan (KITT) menetapkan bahwa penerapan nama-nama takson dari tingkat suku ke bawah
ditentukan berdasarkan tipe tatanama. Suatu tipe tatanama adalah salah satu unsur penyusun takson
yang selalu dikaitkan dengan nama takson yang bersangkutan untuk selama-lamanya. Tipe tatanama
tidak perlu merupakan unsur atau spesimen atau contoh yang paling khas daripada takson; tipe
hanyalah suatu unsur yang selamanya dikaitkan dengan nama.
Tipe yang digunakan dalam tatanama secara umum adalah:
1. Holotipe (= holotypus), ialah suatu spesimen atau unsur lain yang dipakai oleh seorang
pengarang atau ditunjuk olehnya sebagai dasar waktu pertama kali mengusulkan nama jenis baru.
Selama holotipe masih ada, penerapan nama yang bersangkutan dengannya dapat dipastikan
secara otomatis. Kalau pengarang yang mempertelakan suatu takson tidak menentukan holotipe,
atau kalau holotipe hilang maka tipe pengganti atau tipe baru dapat ditunjuk untuk
menggantikannya.
2. Tipe pengganti (= Lectotype), ialah suatu spesimen atau unsur lain dari spesimen-spesimen
asli (isotope atau sintipe) yang dipilih untuk menjadi tipe tatanama, kalau holotipe tidak
ditentukan atau holotipe hilang atau hancur.
3. Isotipe (= Isotype), ialah duplikat (bagian dari suatu nomor koleksi yang dikumpulkan dalam
waktu yang sama) dari holotipe.
4. Sintipe (= Syntypus), ialah salah satu daripada beberapa spesimen atau contoh yang
disebutkan pengarang kalau holotipe tidak ditentukan, atau sslah satu daripada beberapa spesimen
yang bersama-sama ditunjuk sebagai tipe.
5. Tipe baru (= Neotypus), ialah spesimen yang dipilih untuk menjadi tipe tatanama, kalau
holotipe hilang atau rusak dan tidak mungkin untuk menunjuk tipe pengganti karena tidak adanya
isotope atau sintipe.
Nama-nama baru yang diusulkan untuk mengganti nama-nama lain, ataupun nama-nama kombinasi
baru yang berasal dari nama-nama sebelumnya, haruslah memakai tipe-tipe tatanama dari namanama
yang lebih tua atau yang digantinya.

Sumber : file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (12 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM (BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI)









1 komentar: